4
BeST (2) copy
 
 
Derai Sunyi
  By : Amrul Fajri
******
         Kuhempaskan tubuh penatku di atas ranjang usang di kamar sempit ini, mataku menerawang menatap langit-langit kamar,sudah duapuluh tahun lebih aku berada disini.Berteman sunyi dan sepi,tampa senyuman dan tawa,aku hanya sendiri disini,memeluk keresahan dan kegundahan yang lara.Disini, dikamar ini,dirumah ini,dikota ini.Sudah lebih dua puluh tahun aku hidup tampa bersuara,tampa bercanda,tampa kegirangan dan senyuman,paling aku hanya bisa menjerit kesakitan ketika cambukan keras dan kasar itu mendarat di tubuhku,di betisku,dan tak jarang juga aku dikurung berhari-hari tampa sesuap nasi dan seteguk air putih untuk membasahi kerongkonganku yang kering keronta.
         Sekarang aku berada dikamar ini,setelah kulayani majikanku yang kasar dan arogan.Kini seluruh tubuhku terasa ngilu dan perih,setelah beberapa menu sarapan yang dikasih tuan rumah kepadaku.Selama dua puluh tahun lebih aku disini.Seingatku sarapan yang sering kuterima adalah,cambukan, dan kata-kata kotor yang sering dilontarkan kepadaku saat tuan rumah tidak puas dengan pekerjaanku.Padahal secara kasat mata aku telah melakukan seperti yang diinginkan majikanku,tapi dimata mereka tetap juga ada yang salah.Disaat kondisi seperti itu aku hanya bisa bersabar dan berdiam diri mendengar umpatan kasarnya.
 
         Kalau bukan atas permintaan emak untuk  pergi kesini,tentu aku tidak akan pernah melakukan hal koyol seperti  ini,jauh dari keluarga dan sanak saudara,tentu semua ini sangat membuat hatiku miris.Seringkali aku menyalahkan sikap emak,bahkan tak jarang juga aku mengumpat terhadap sikap emak yang menyuruhku pergi kesini.Dulu emak selalu berkata.
 
“Halimah,apa kamu tidak mau nasib kita berubah?”
Begitu Tanya emak ketika aku duduk diberanda rumahku yang jauh dari kesan sederhana.
“Emak,Halimah rasa tidak ada seorang pun ingin nasibnya hanya di sawah,berteman bebek dan berkubang dengan lumpur sawah,Halimah mau nasib kita berubah.”
“Kalau begitu pergilah ke negeri sebrang,disana emak dengar-dengar banyak pekerjaan yang bisa mengubah nasib kita”
“Tapi emak,Halimah inginnya mencari pekerjaan di sini saja,bisa lebih dekat dengan emak”
“Halimah,dengan hanya menjadi tukang nyuci dan nyetrika,tidak akan bisa mengubah nasib kita,emak tidak mau kamu bekerja seperti itu lagi”
“Tapi Halimah  akan cari pekerjaan yang lain”
“Mau dicari dimana Halimah,disini tidak banyak lowongan pekerjaan.Selain jadi tukang nyuci, nyetrika,dan kesawah.”
“Terus kalau Halimah pergi kesana,Halimah mau kerja dimana,Halimah sama sekali tidak tahu negeri orang”
“Halimah. Demi emak,emak mohon kamu pergi!”
“Siapa yang jagain emak?”
“ Allah” Jawab emak,
 
         Tidak terasa air mataku mulai meleleh,bukan air mata penyesalan dan marah terhadap emak,tapi air mata rindu, semakin lama semakin deras.Andai saja aku punya Sayap,tentu akan ku kepak sayap-sayapku dan terbang menemui emak.Akan kucium kening emak penuh ta’zim.Tapi sayang tubuhku kini tak berdaya untuk melakukan itu,lebih tepatnya tidak mungkin.Apalagi kini genap dua bulan aku sudah mengandung anak tampa ayah dirahimku.Sama-sekali aku tidak tahu siapa yang melakukan ini terhadapku.Emak…Ah…tak ada yang perlu disalahkan, emak sama sekali tidak bersalah,terlalu banyak dosa jika aku selalu menyalahkan wanita yang mengandungku selama Sembilan bulan.Apalagi setelah aku dilahirkan,terlalu banyak beban hidup yang ia pikul semenjak aku terlahir kedunia ini.Bahkan tak mengurangi kemungkinan semenjak aku berada di rumah mewah ini.Ia sendiri,ingin aku menjerit sejadi-jadinya.tapi tak mungkin kulakukan,kalaupun aku melakukannya,tentu tidak ada jeda sedetik,majikanku akan kekamarku  dan menamparku sekuat tenaganya hingga aku tak sadarkan diri.
         Aku tidak tahu sudah berapa lamakah aku disini,termangu sendiri,menatap loteng-loteng kamar.Belum sedetikpun kupejamkan mata ini,rasanya terlalu berat untuk terpejam.Apalagi perih ditubuhku tak kunjung hilang.
 
“Halimah….!!!!!” kontan saja tubuhku terperanjat,itu suara Nyonya Arista.
         Buru-buru kubuka pintu kamarku.Dengan wajah menunduk sambil menahan perih,aku menghadap Nyonya Arista.
“A…a..ada apa N.Nyo..Nyonya?”
“Dasar anak pelacur” Seketika ingatanku terbayang wajah tirus emak yang sudah tua dan berkeriput.
“A..Apa S..Sa..Salah saya Nyonya?”
“Apa masih kurang jelas, apa kesalahan kau dugu?sekarang juga gugurkan kandungan kau itu”
“A..Apa??”aku kaget dengan permintaan Nyoya Arista.Sebuah permintaan yang tidak mungkin kulakukan,meskipun aku sendiri tidak mengiginkan anak ini lahir. Terlalu berat untuk melakukan dosa besar itu.
 
“Masih belum jelas juga?,sekarang juga kau gugurkan kandungan kau itu,karna aku tidak ingin anak itu lahir.Apalagi anak itu darah daging suamiku sendiri,dan aku tidak mengiginkan kau mengambil suamiku dari hidupku” suara Nyonya Arista menggema bagaikan halilintar ditelingaku,yang benar-benar membuat aku kaget,ketika Nyonya Arista menyebut bahwa bayi yang ada dirahimku adalah darah daging suaminya.Tampa berkata  apa-apalagi,seketika tubuhku ambruk kelantai didepan Nyonya Arista.Dan akupun tidak sadarkan diri.
                                                                
******
         Ketika siuman,kudapati diriku disebuah ruangan gelap dan pengap.Mungkin ini ruangan bawah tanah,dimana aku sering disiksa dan dianiaya,ini merupakan ruangan rahasia,hanya Nyonya dan Tuan saja yang tahu ruang ini.
 
“Oh…ternyata kau sudah siuman?”sebuah suara angkuh nan mengejek,menyapaku.Siapa lagi kalau bukan suara Nyonya Arista.
“Sekarang kau ikut aku,”dengan sangat kasar Nyonya Arista menyeretku keluar dari ruangan itu,setiba di halaman depan sebuah mobil sedan hitam metalik berdiri angkuh didepanku.Tidak jauh berbeda dengan pemiliknya.
“Cepat kau naik,aku ingin hari ini urusan antara kau dan aku selesai.”
“Tapi Nyonya,A..Aku.tidak ingin melakukan hal itu”
“Cepat naik,jangan banyak bicara kau.pembantu sial”teriak Nyonya
Arista.Garang.
 
         Aku tetap bersikeras tidak mengikuti Permintaan Nyonya,aku sudah bertekat, meskipun cambukan itu mendarat ditubuhku beribu-ribu kali,permintaan Nyonya tetap tidak akan sudi kulakukannya.Aku tidak akan pernah melakukan hal yang paling dikutuk Allah.Seketika tamparan keras dan kasar mendarat di wajahku,lalu Nyonya Arista menarik dengan sangat kasar jilbabku hingga lepas.
 
“Dasar anak tidak tahu diri,anak sialan,untuk apa kau memakai jilbab,sementara kau rela menyerahkan kehormatan kau kepada suamiku!!”
“A…aku tidak tahu apa-apa Nyonya,kapan Tuan melakukan perbuatan bejat itu kepadaku,seingat aku.Ketika itu, Tuan pernah menyeretku kekamarku.Lalu T..tu…tuan menampar wajahku dengan sangat keras hingga aku tak sadarkan diri,setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi padaku,ketika aku siuman kudapati keadaanku seperti tidak terjadi apa-apa.”
“Dasar pembohong!!!”dengan sangat keras,bahkan lebih keras dari tadi,Nyonya Arista menamparku,kemudian disusul jerat cambukan yang mengundang perih luar biasa.Aku mengerang kesakitan luar biasa.
“Kau pikir aku percaya dengan bualan kau. Gadis malang”
 
         Seperti yang aku perkirakan,Nyonya pasti tidak akan percaya dengan ucapanku,meskipun apa yang aku tuturkan adalah fakta.Kini,tangan lembutnya,menjambak keras rambutku,rambutku terasa lepas dari kulitnya.Kemudian dihantamnya batok kepalaku ke dinding beton, Ooooeo.Luar biasa sakit,batok kepalaku terasa pecah berkeping-keping dan darah terasa berhamburan,mataku berkunang-kunang dan suasana menjadi gelap.Kurasa tubuhku ambruk,dan aku tidak sadarkan diri.
 
         Ketika siuman,kudapati diriku terbaring didalam kamar,dikepalaku masih menyisakan perih dan sakit luar biasa.Entah kenapa, tiba-tiba dalam jiwaku membuncah seribu rindu yang tidak bisa dibendung oleh apapun. Meskipun kepalaku pening bukan main. Diantar seribu rindu itu,yang paling aku rindu adalah untuk hadir bercakap dan berdoa dihadapannya,dan yang mampu meredam kerinduan itu,hanya sujud,iya, hanya sujudlah yang mampu meredam kerinduan termasuk kerinduan kepada emak.Wajah emak menari-nari indah di depan mataku,aku sujud berkali-kali di sudut kamar diatas sajadah pemberian emak,lalu kuuntai hitungan tasbih dengan irama luar biasa syahdunya.Tampa kusadari rupanya ada telinga yang merekam peristiwa itu,telinga yang telah merusak hidupku,telinga yang sudah menghancurkan harapanku,telinga yang sudah menghancurkan mimpi-mimpi indahku.Tuan Josef,ia tersenyum kepadaku,entah itu senyum kemenangan atas hancurnya hidupku,entah itu senyum tulus,entah itu senyum rasa bersalah atas perbuatannya.Yang jelas aku tidak terlalu mengerti dengan senyuman itu,lebih tepatnya tidak perlu kumengerti atas senyumannya itu,dari dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat membenci pria tua itu.Akan kutuntut dia dihadapan Allah diakhirat kelak.Tampa kugubris senyum itu,kusibukkan diriku dengan untaian tasbih kepada Rabbi.Tampa kusadari Tuan Josef sudah berada disampingku,masih dengan senyumnya.
 
“Halimah,apakah kau masih rindu kepada emak kau?.”Tidak kugubris pertanyaan itu,toh harapan untuk bertemu emak sangatlah tipis,tidak mudah seorang TKW bisa diberi peluang oleh majikannya untuk pulang,apalagi keluarga Tuan Josef,keluarga paling sadis yang pernah kutemui,aku masih larut dalam untaian tasbih.
“Aku siap membantu kau untuk bertemu emak kau”Ujar tuan Josef
‘Dan aku, tidak akan pernah percaya atas bualan kau. Meunafik’Umpatku dalam hati.
 
                                                                     ******
         Dibawah payung gerimis,Kupaksakan tubuh ini menyusuri jalanan sepi,sebenarnya tubuhku tak sanggup lagi berjalan.Betisku membengkat, ada bekas jeratan cambukan yang membiru disitu.Wajahku memerah,bekas siraman air panas dan tamparan.Rambutku terurai tak terurus,dipunggungku banyak jerat-jerat cambukan,perinya luar biasa.Akhirnya tubuh ini tumbang dan roboh.
 
         Dan.Wajah itu,wajah itu bersih sekali,meskipun sudah berkeriput,dan beruban,kini wajah itu tak lagi seperti dua puluh tahun yang lalu,tapi meskipun berkeriput dan beruban senyum itu.Iya senyum itu,senyum itu masih khas sekali,senyum pernuh arti,dan senyum penuh kemanjaan.Ingin ku kecup kening pemilik senyum itu,tapi tak mampu.Jelas sekali kulihat wajah pemilik senyum terindah itu.Sempat kulirik sebuah wajah tampan disampingnya,Ah wajah itu…wajah paling terindah yang pernah kutemui dan wajah yang tidak asing lagi dalam hidupku,Mas Fahri. Seutas senyum disodorkan kepadaku,tak kutunda waktu lagi,barang setengah detik pun,langsung kubalas senyum terindah itu.Tubuhhku masih menyisakan perih luar biasa,wajahku panas membara bagaikan kobaran api menjilat-jilat.Kepalaku pusing bukan main,rasa-rasanya mataku tak sanggup lagi memandang.Aku kembali tak sadarkan diri.
 
Kalaupun Allah mengambil saya,saya ikhlas,asal aku sudah menikmati wajah tirus kurus,keriput dan kering terbakar sinar matahari itu.Tapi ternyata Allah masih memberi harapan untuk saya,bisa menatap dunianya yang Indah ini dan bahkan mungkin bisa mencium wajah emak setiap saat.
 
                                                         - TAMAT-
Sigli. Rabu,21 November 2012.

Post a Comment Blogger

 
Top