0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Ruang Kosong (Part 2)

By : Muhshal Misbah

******

" Lihat ! Punyaku bagus, kan ? " Tisa menunjukkan gambar hasil karyanya kepada Ayah. tapi Ayah tak begitu menghiraukannya. Sedari tadi matanya asyik melahap beberapa berita kriminal di televisi tanpa peduli putrinya yang terus memanggil-manggilnya untuk meminta komentar mengenai gambar2 yang telah dilukis putrinya itu sejak tadi.

" Ayah, bagaimana dengan punyaku ? " giliran Naya yang meminta penilaian dari Ayah. Ayah hanya melirik sebentar lalu mengatakan kalau itu bagus. 

Tisa dan Naya menghela nafas. Pipi keduanya yang mengembung saat menghela nafas berat terlihat sangat lucu. 

Kedua gadis kecil kembar tersebut merebahkan tubuhnya ke pangkuan Ayah. Keduanya memperhatikan wajah Ayah yang matanya tak beranjak dari layar televisi.

" Ayah.." Tisa bersikap manja menutup mata ayahnya dengan kertas bergambar yang di tunjukkan ke ayahnya tadi. Sementara Naya mencubit-cubit paha Ayah.

" Hei hei ! Kalian awas, ya.. " ayah mencium kedua gadis kecilnya itu sampai pipi2 mereka merah. Kedua gadis itu menjerit manja karna geli akibat gesekan jenggot tipis Ayah.

Aku meninggalkan anak dan ayah yang sedang bercengkrama itu. 

Di dapur, ibu sedang menyiapkan makan malam untuk kami.

" Sudah selesai, Bu ? Aku lapar sekali " aku memeluk ibuku dengan manja.

" Hei.. Mau ngapain ? " ibu mencoba melepaskan tanganku yang merangkul pinggangnya.

" Kenapa tidak boleh ? Kau ibuku, kan ? " aku melilitkan tanganku ke pinggang ibuku lebih kuat.

" Bisa kau bawakan ini kemeja makan ? " ibu menyuruhku membawa beberapa piring lauk yang sudah siap di santap ke meja makan.

" Panggil ayah dan adik-adikmu juga, kita sudah mau makan malam " perintah ibuku lagi.

Setelah menaruh semua lauk di meja makan, aku mengayun langkahku ke ruang keluarga. Tisa dan Naya di sana masih bersenda gurau dengan ayah. Aku mengambil kertas gambar milik Tisa. Di sana bergambar pancake yang di cat dengan warna coklat. Aku tersenyum.

" Kau menyukainya ? " tanya Tisa dengan penuh harap agar aku mengatakan suka.

Aku menggelengkan kepalaku. Wajah Tisa berkerut.

" Kau tidak suka ? " tanyanya masih berharap.

" Seandainya bisa di makan, Mungkin aku yang akan melahapnya pertama kali " senyum mengembang di wajah Tisa yang berpikir mungkin aku menyukai hasil karyanya.

" Kau tidak ingin melihat pancakeku ? " Naya memperlihatkan gambarnya padaku. Ia mulai memasang wajah kasihan berharap agar aku menyukainya.

Aku menarik kertas bergambar tersebut dari tangan Naya lalu berteriak " ayo kita bawa ini untuk makan malam ! Ayah, makan malam sudah siap ! " lalu aku berlari ke dapur.

Ayah lebih dulu mendarat di tahtanya. Semua yang terhidang di meja makan membuat ayah menelan liurnya beberapa kali. Terlihat kerongkongannya yang naik turun.

" Sepertinya Ayah sangat lapar " kataku yang membuat Mata Tisa dan Naya melirik ke wajah ayah.

" Ayah, tahan dulu sebelum ibu duduk di sebelahku ! " ucap Tisa sambil menodongkan sendok ke wajah ayah.

" Kau mengancam Ayah ? Ayah punya garpu ! " balas Ayah yang menodong Tisa dengan garpu. Lalu suara tawapun memenuhi dapur.

**


Baru saja ibu mendarat di kursi untuk melahap makan malam. Belpun berbunyi. Ibu dan ayah saling tatap-tatapan. Siapa yang bertamu malam-malam begini ?.

Ayah menoleh ke arahku. Terbaca sekali perintah di mata ayah agar aku yang membukakan pintu. Aku membuang muka.

" Biar ibu saja.." lalu ibu beranjak pergi meninggalkan meja makan.

Lama ibu tak kembali membuat ayah ingin menyusul ibu. Begitu ayah mulai mengambil langkah, aku dan kedua adikku menyusulnya di belakang.

Ibu hanya berdiri saja di depan pintu. Sepertinya ada tamu yang tidak di persilahkan masuk. Seorang pria. 

Ayah melarang aku dan kedua adikku keluar. Ia meminta kami kembali ke meja makan. Tisa dan Naya memilih kembali kesana sementara aku bersandar di sofa ruang tamu sambil memperhatikan apa yang di lakukan ayah, ibu dan tamu yang tidak ku kenal itu.

Pria itu tersenyum pada ayah. Ayah terlihat kesal sehingga tidak membalas senyuman pria tersebut.

Pria itu menepuk bahu Ayah dan meminta ayah untuk santai saja.

Ibu menatap wajah ayah dengan tatapan serius. Ayah mempersilahkan tamunya itu masuk lalu Pria itu masuk dengan menggandeng tangan ibuku. Aku bingung kenapa pria itu menggandeng tangan ibuku dengan mesra dan kenapa ayah tidak marah.

Ayah mengajakku ke meja makan untuk makan malam. Sementara ibu pergi ke lantai atas bersama Pria tadi.

" Ayah, ibu tidak makan ? " tanyaku heran.

" Mungkin ibu sudah makan sambil memasak tadi " jawab ayah dengan datar sambil mengambil nasi.

Tisa dan Naya sedang melahap makan malam sejak tadi.

" Dan siapa Pria tadi ? " tanyaku lagi.

" Teman ayah. Sudahlah kau makan dulu.." jawab ayah malas tanpa menoleh ke arahku.

Aku bangkit dari kursi dan beranjak meninggalkan meja makan. Ayah tak menghiraukanku. Ia serius melahap makan malam.

Aku berlari menuju kamar Ayah di lantai atas. Tapi Pintunya di kunci.

" Ibu ! Ibu ! ". Panggilku sambil menggedor2 pintu.

Terdengar suara ibu mengerang kesakitan.



 

*BERSAMBU KE PART 3…*


Semoga Bermanfaat

“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top