0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Ruang Kosong (Part 3)

By : Muhshal Misbah

******

Alarm berbunyi. Aku membuka mataku. Kenapa masih gelap ?. Ah, ternyata selimut menutupi wajahku. Aku berusaha menyibak selimut yang menutupi wajahku, tapi tanganku tak mampu meraihnya. Kedua tanganku terikat ke belakang. Begitu juga kedua kakiku. Aku tak bisa bangun. Aku berguling dan terjatuh dari tempat tidurku. 

" Aaakhh ! " aku yang masih terbungkus selimut mengerang kesakitan. 

Terdengar suara pintu terbuka di ikuti suara langkah seseorang sedang menuju ke arahku. 

" Kau pikir sudah jam berapa ? Kenapa tidur di lantai ? " suara ayah bertanya. 

" Aku tak bisa bangun, Ayah. Bukalah ! " kataku yang masih terbungkus selimut. 

Ayah melepaskanku dari cengkraman selimut yang membuatku sulit bernafas. Ayah tersenyum ketika melihat tangan dan kakiku terikat. 

" Ayah harus menghukum putri-putri kesayangan Ayah itu. Ini bukan yang pertama kali ! " kataku kesal. 

Ayah melepas ikatan pada kedua tangan dan kakiku. 

" Kenapa tidak mengunci pintu. Salahmu sendiri ". 

" Ayah masih membela mereka ? Mereka yang salah ! ". 

** 

\Mobil Ayah berhenti di depan pintu gerbang sekolah kami. Kami turun. Begitu ayah mengucapkan Sampai Jumpa dan menancap gas, aku menyemprotkan saos ke seragam Tisa dan Naya. Kedua bocah itu sangat kaget dan marah. 

" Ku pastikan kalian tidak akan di izinkan masuk. Pulanglah dan cucilah pakaianmu. Lihat bagaimana aku membalas. Pergilah dan mengadu pada ayah. Dasar bocah jorok ! " ledekku. 

Tisa dan Naya mematung di pintu gerbang sekolah menatapku yang sedang menuju halaman depan sekolah. Hingga pintu gerbang di tutup, mereka tak berani masuk. 

** 


Ibu yang sedang merapikan kamarku bergegas keluar dari kamarku saat bel berbunyi. 

" Pagi-pagi sekali ? " tanya ibu begitu membukakan pintu. 

Seorang Pria yang berdiri di depannya itu hanya memberi senyum lalu sebuah kecupan lembut melayang ke bibir ibu. 

" Kau tidak terkejut ? Ini surprise " kata Pria tersebut. 

Ibu hanya tersenyum. 

" Bari sudah berangkat kerja ? " tanya Pria itu sambil melangkah ke dalam lalu menaruh pantatnya di sofa ruang tamu. 

Ibu menempatkan tubuhnya di sisi pria itu. 

Dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. 

" Padahal aku bawa sesuatu untuk suamimu itu.. " tangan pria itu merangkul bahu ibuku. 

" Sesuatu ? Apa ? " tanya ibu pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah bisa menebak apa yang di bawa tamunya itu. 

" Dia kelelahan dan tertidur. Jadi aku meninggalkannya di mobil. Kau ingin melihatnya ? " Pria itu merangkul ibuku lebih kuat. Hidungnya mulai menggesek-gesek pipi ibuku. 

Ibu mencoba melepaskan rangkulan Pria itu. 

" Jangan di sini, Han ! ". 

Pria itu malah mendekapnya lebih kuat dan merebahkan tubuh si ibu ke sofa. Tubuh kekar Johan menekan tubuh ibu dengan kuat. 

" Han, aku tidak bisa bernafas " keluh ibu yang mulai merasa tidak nyaman. 

Entah Johan tak mendengar atau tak peduli tentang keluhan ibu. Kini jari-jarinya berbaris menyusup ke bawah rok ibu. Bibirnya mulai merapat ke leher ibu dan menggesek-geseknya. Ibu mengangkat dagunya dan mendesah. Kaki ibu meronta-ronta dan tanpa sengaja menendang sebuah pot bunga di atas meja hingga terjatuh. Sontak saja membuat Johan kaget. Dia melepaskan tangannya yang dari tadi mencengkram kuat tubuh ibuku. Dia menoleh ke lantai. Pecahan pot berserakan. 

" Kalian ? Sudah pulang ? " tanya ibu begitu menoleh ke pintu. Suara ibu seperti orang yang ketakutan. Wajahnya pucat. 

Johan bingung. Ibuku bicara dengan siapa, pikirnya. Lalu matanya mengikuti arah tatapan mata ibuku. Dia lebih kaget lagi saat sorot matanya menangkap dua makhluk kecil mematung di depan pintu. 

Segera ibuku mengangkat tubuh mungilnya dari sofa setelah mendorong Johan yang masih menekan tubuhnya. 

" Kenapa pulang ? Baju kalian kenapa merah-merah begini ? " Tanya ibuku sambil mencoba menghapus noda bekas saos di seragam Tisa dan Naya. 

" Oem Johan mau mencekik ibu ? " Tanya Tisa. Matanya menatap tajam Johan yang sedang membersihkan pecahan pot bunga tadi. 

" Ayo masuk. Kalian harus ganti baju dulu. Kotor sekali ". 

Ibu membawa Tisa dan Naya ke Dalam. Sementara Johan belum meninggalkan ruang tamu. Dengan menggunakan bahasa Isyarat, Ibu meminta Johan untuk menunggunya di mobil. 

Johan mengayun langkah menuju mobilnya. Lalu beberapa saat kemudian ibuku menyusul dan marah-marah. 

" Lihat, kan ? Kamu kalau nafsuan kira-kira, dong ! Aku udah bilang 'jangan' kan ! ". 

" Lagian apa salahnya, sih ? Kamu takut apa ? Walaupun tadi suamimu yang berdiri menonton kita juga nggak masalah, kan ? " bela Johan santai. 

" Mereka itu anak-anak. Itu masalahnya..! " ibuku menudingkan jari telunjuknya ke dada Johan. 

Seorang perempuan keluar dari mobil Johan dalam keadaan setengah sadar karena masih mengantuk dan memeluk johan dari belakang. 

" Dari mana aja, Sih ? " kata perempuan itu tanpa membuka matanya. 

Johan menuntun perempuan itu masuk ke rumah. 

Ibu menghembuskan nafas berat. Sepintas matanya melihat bayangan lehernya yang kemerah-merahan di spion mobil. Dia meraba lehernya lalu menutupinya dengan rambutnya. 

*BERSAMBUNG KE PART 4….*


Semoga Bermanfaat
“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top