0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Ruang Kosong (Part 4)

By : Muhshal Misbah

******

Sudah jam 11 malam lewat. Ibu menyendiri di dapur . Keadaan dapur sedikit gelap karena ibu sengaja membiarkan lampunya padam. Ia duduk menopang dagu di meja makan. Tatapannya kosong. Sisa makan malam di meja makan belum di bereskannya. Beberapa kali ibu menoleh ke jam dinding. Hingga jam 12 berlalu, ibu masih tidak mau beranjak dari sana.

Cahaya lampu yang tiba-tiba memenuhi ruangan dapur membangkitkan ibu dari lamunannya.

" Sebaiknya kau temani anak-anak dulu. Mungkin malam ini kau bisa tidur dengan mereka " kata ayah begitu ia melihat ibu termenung di meja makan. Ayah membuka kulkas lalu mengambil dua botol minuman kaleng.

Ibu tak mengatakan sepatah katapun. Bahkan ia tak melihat ke arah ayah yang hendak meninggalkan dapur.

Ayah mematikan lagi lampunya.

" Apa perempuan itu tidak pergi ? " tanya ibu mulai bersuara.

Ayah menyalakan lampunya kembali.

" Johan tidak menjemput. Dia akan menginap sepertinya " jawab ayah sambil menggoyang-goyangkan botol minuman di tangannya.

Ibu bangkit dari tempat duduknya beranjak mendekati Ayah.

" Apa dia tidak bisa pergi saja ? Aku mau tidur di kamarku ! " kata ibu marah.

" Hei, apa kita pernah memperlakukan tamu kita seperti ini ? Menyuruhnya pergi ? Kau kenapa ? " ayah mulai heran dengan sikap ibu.

Ibu menghembuskan nafas berat. Ayah membelai pipi ibu.

" Sudahlah, aku lelah sekali. Sekarang aku mau istirahat. Kau tidur saja di kamar Tisa dan Naya. Mereka pasti senang bisa bersamamu " ucap ayah lalu pergi setelah mematikan lampu.

Ibu seakan tenggelam ke dalam lautan yang dalam dan tak kuasa untuk berenang ke permukaan. Ibu merasa telah dikhianati suaminya itu. Tidak biasanya sikap ayah yang seolah tak peduli pada ibu. 

Ibu mematung menyaksikan ayah beranjak menuju kamarnya. Berharap sekali lagi ayah menoleh ke belakang dan tersenyum pada ibu. Harapan ibu sia-sia.

**

" Selamat pagi, Bu " ucapku begitu menemukan ibuku yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Seperti biasa, aku memeluk ibuku dari belakang. Ibu tersenyum lalu dia mengusap kepalaku.

" Baunya enak sekali.. Aku jadi lapar.." kataku saat aroma masakan ibu yang sedang di aduk-aduk diatas api menyentil lubang hidungku.

" Adik-adikmu.. Kau lihat mereka. Suruh mereka bangun.. " suruh ibuku.

Aku menggelengkan kepala dan tidak mau melepaskan tanganku yang masih melilit di pinggang ibuku.

" Kau tidak sekolah ? " tanya ibuku.

" Bagaimana aku bisa sekolah. Seragamku kotor semua ".

" Kok bisa ? ".

" Tisa dan Naya benar-benar balas dendam padaku, Bu ".

" Salahmu sendiri, kan ? Sekarang ibu juga yang capek harus mencuci semuanya ".

Tisa dan Naya masuk ke dapur lalu hinggap di meja makan. Keduanya tersenyum sinis padaku. Aku kesal. Ingin ku lemparkan piring berisi rendang ke wajah dua gadis itu. Bagaimana tidak, tanpa sepengetahuanku kedua gadis kecil itu mengencingi seragam sekolahku semalam.

Ayah yang sudah berpakaian rapi masuk ke dapur. Sebelum ia sempat meletakkan pantatnya di kursi, ibu menarik lengannya dan membawanya ke ruang tengah.

" Apa wanita itu masih belum pulang ? " tanya ibu agak marah.

" Sampai Johan menjemputnya, dia tidak akan pulang " jawab ayah. " Kau telpon Johan ! Kenapa susah sekali menghubunginya ! " lanjut ayah agak kesal.

" Bawa dia pergi dari sini saat kau ke kantor ".

" Bersama anak-anak ? Kau gila ? " kata ayah lalu beranjak ke dapur. 

Ibu kesal. Bola matanya membesar. Nafasnya terlihat di paksakan membuat dadanya kembang kempes tak beraturan. Di tambah sikap ayah yang terlihat tidak mau bertanggung jawab membuat marah ibu naik dua kali lipat.

Ayah melahap sarapannya tanpa bicara sepatah katapun. Begitupun dengan ibu. Suasana meja makan pagi ini begitu sepi bagai kuburan. Hanya suara-suara sendok yang memukul-mukul piring. Sepertinya ada masalah yang serius antara Ayah dan ibu, Pikirku.

**

Ibu berdiri di depan jendela menyaksikan mobil ayah pergi meninggalkan halaman rumah kami. Begitu mobil ayah menghilang di kejauhan, ibu bergegas menuju kamarnya di lantai atas.

Melihat ibuku yang tergesa-gesa membuatku penasaran dan mencoba untuk mengikutinya.

Mengetahui aku yang mengikutinya, ibu berhenti di ujung tangga dan berbalik menatapku.

" Pergilah ke kamarmu.. " perintah ibu agak kesal. Seperti ia tidak mau menunjukkan kemarahannya padaku. Tapi aku tahu kalau dia sedang marah.

Aku mematung tanpa bicara mendengar perintah ibuku. Kepalaku menunduk. Selangkah aku melangkah mundur.

Ibuku berbalik bergegas menuju kamarnya. Aku yang tak peduli pada ucapan ibuku tadi kembali mengikuti ibuku.

" Aakhh ! ".

Terdengar suara wanita menjerit di kamar ibuku. Aku menempel telingaku di pintu kamar ibuku. Jari-jariku sudah siap mengetuk pintu, tapi ku tahan jari-jariku ketika suara seorang wanita menjerit lagi. Itu bukan suara ibuku, pikirku.



*BERSAMBUNG KE PART 5….*


Semoga Bermanfaat
“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top