0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Ruang Kosong (Part 5)

By : Muhshal Misbah

******

Mendengar suara langkahan kaki mendekat, aku menjauhi pintu kamar ibuku. Pintu terbuka dan ibu keluar dengan mengarak seorang wanita dengan paksa. Wanita yang tak ku kenal itu hanya mengenakan baju dalam yang hanya menutupi bagian atas dada hingga setengah pahanya. Wanita itu terus menjerit kesakitan saat ibuku terus menarik rambutnya. Wanita itu tidak berusaha melawan ibuku. Dia terlihat pasrah pada perlakuan kejam ibuku terhadapnya. Hanya jeritan kesakitan yang terus mengaum dari mulutnya.

Ibu tak menyadari kalau aku sedang menyaksikan apa yang sedang di lakukannya itu.

Aku berdiri di ujung tangga dan tidak berusaha untuk mengikuti ibuku yang sekarang telah berhasil mengarak wanita itu ke pintu depan.

Ibu membuka pintu dan mencoba melempar wanita itu keluar. Tapi om Johan yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu membuat ibu kaget. Om Johan sama kagetnya dengan ibu. Dia memaku dan tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat.

Ibu melepaskan tangannya yang dari tadi menarik rambut wanita itu. Karena terlalu lemah, tubuh wanita itu rebah ke lantai. Kedua tangannya berusaha menopang tubuhnya yang sudah tak berdaya itu. Ia menundukkan kepalanya. Rambutnya yang berantakan seperti sarang tikus menutupi wajahnya yang penuh lebam itu.

" Ini tidak akan tidak akan terjadi seandainya kau tak membiarkannya semalaman di sini ! " kata ibuku kesal.

Antara bingung dan takut atau mungkin merasa bersalah, tak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut Om Johan. Tanpa berlama-lama lagi, sebelum kemarahan ibuku berkobar lebih dahsyat lagi, Johan merangkul tubuh wanita yang sudah tak berdaya tadi lalu menuntunnya keluar menuju mobil.

Telpon berdering sesaat setelah Johan membawa pergi wanita tadi dengan mobilnya.

Ibu mengangkat telponnya.

" Halo ? " suara ibu tampak lelah.

" Apa terjadi sesuatu di rumah ? " suara ayah bertanya di telpon.

Ibu sudah bisa menebak. Johan telah memberi tahu Ayah perihal tadi. Ibu berusaha tetap tenang.

" Kalau kau ingin tahu. Pulanglah.." kata ibu.

" Apa benar ? Kau ini kenapa, Hah ?! " suara ayah terdengar sangat marah.

" Aku tidak ingin membicarakannya di telpon.. " kata ibu lalu menutup telponnya.

Aku menemui ibuku yang sedang memaku di depan telpon. Wajahnya terlihat kesal. Aku meraih tangannya.

" Apa yang kau lakukan di sini ? " tanya ibuku begitu melihatku.

" Tidak. Aku baru dari kamarku. Apa terjadi sesuatu, Bu ? " tanyaku pura-pura tidak tahu.

Ibu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Ibu mengelus rambutku.

**

Ayah pulang begitu kami selesai makan malam. Begitu ibu melihat ayah memasuki dapur, ibu langsung mengusirku dari sana. Begitupun dengan Tisa dan Naya yang langsung meninggalkan dapur selepasku.

Ayah hanya berdiri di dekat meja makan sambil menatap ibu yang sedang membereskan sisa makan malam dengan tatapan tajam. Namun ibu tak peduli.

" Kau membuatku tidak tenang hari ini " kata ayah.

" Aku pikir kita tidak perlu membahasnya ! " kata ibu tanpa menoleh ke wajah ayah. 

" Apa yang telah kau lakukan pada wanita itu, kita tidak perlu membahasnya ? " ayah meninggikan suaranya.

" Apa kau semarah itu ? Kalau ingin bersenang-senang semalaman, jangan di rumah ini ! " ibu membalas dengan suara tinggi.

" Apa bedanya denganmu ?! " bentak ayah lalu melempar gelas ke dinding.

Ibu menghembuskan nafas berat lalu menudingkan jari telunjuknya ke dada Ayah.

" Kau yang memulai semua ini.. ".

Ayah terdiam. Beberapa kalimat yang hampir berhamburan dari mulutnya tertahan di kerongkongannya. 

Ibu beranjak meninggalkan dapur. Tapi baru beberapa langkah menjauh dari Ayah, ayah menarik tangan ibu sehingga memaksa tubuh ibu menghadapnya.

" Apa yang telah aku mulai bukankah itu ada untungnya bagimu ? Kau bisa bebas tidur dengan laki-laki manapun yang kau mau ! " kata ayah dengan mata melotot.

" Menurutku ini sudah cukup. Ayo kita hentikan sekarang ! " ucap ibu sambil menatap mata ayah. Ibu melepaskan tangan Ayah yang masih meremas tangannya dengan kuat. 

Tatapan tajam ayah belum surut. Sepertinya ia sangat kesal dengan kalimat terakhir yang di katakan ibu. Ibu mengelus dada Ayah.

" Aku sedang hamil. Kita akan menyambut bayi kita. Dan ini saat yang tepat untuk mengahiri semua hal gila yang selama ini kita biarkan terjadi di rumah ini.." ucap ibu dengan lembut lalu ia pergi dari hadapan Ayah.

" Apa yang selama ini terjadi lalu tiba-tiba kau hamil. Entah air mani laki-laki mana yang sudah menghasilkan janin di rahimmu itu. Lalu kau menyebut itu bayi kita ?! ".

Sekali lagi langkah ibu terhenti. Kali ini karena sebuah kalimat yang lepas begitu saja dari mulut ayah yang membuatnya semakin ingin meminum darah pria itu.

" Menurutku kita harus menggugurkannya. Kalaupun kau ingin melahirkannya, jangan sebut aku sebagai ayahnya..".

Mendengar ucapan suaminya itu, membuat ibu mengepalkan tangannya dengan kuat. Tapi tidak ada yang bisa di katakan ibu ketika suaminya itu menghampirinya.

Kedua tangan ayah hinggap di kedua bahu ibu, lalu Ayah menundukkan wajahnya dekat ke wajah ibu.

" Sudahlah.. Kita tak perlu bertengkar.. Kita akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini.. " kata Ayah dengan nada yang sepoi-sepoi. Suara ayah yang lembut itu benar-benar menentramkan hati ibu sekaligus membuat ibu luluh dak tak ada sepatah katapun lagi yang

*BERSAMBUNG KE PART 6….*


Semoga Bermanfaat
“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top