0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Ruang Kosong (Part 7)

By : Muhshal Misbah

******

Sudah lebih dari Tiga Puluh menit ayah berada di kamar mandi. Suaranya yang sedang mencoba memuntahkan sesuatu dari mulutnya benar-benar membuatku penasaran dan takut. 

" Ayah baik-baik saja ? " tanyaku sambil mengetuk pintu. Ayah malah menyuruhku pergi. 

Sementara itu Ibu sedang bersantai di ruang tengah sambil melahap beberapa acara tv. Entah aca
ra apa yang sedang di tontonnya. Dia terus memindah-mindahkan channelnya. 

Ketika aku memberi tahu keadaan ayah, ibu tak mengubrisku. Dia malah mengusirku dengan alasan kalau dia ingin sendiri. 

Aku kesal dengan sikap ibu yang sama sekali tidak khawatir dengan kondisi ayah. 

Aku beranjak menuju kamarku, sementara ku lihat ayah sedang menuruni tangga lalu menemui ibu di ruang tengah. 

Aku tidak sepenuhnya menutup pintu kamarku, ku biarkan sedikit celah agar aku bisa melihat apa yang akan di lakukan ayahku. Dari gambar wajahnya aku sudah tahu kalau ayah sedang marah besar apalagi setelah mendengar pertengkaran mereka di dapur tadi. 

Ayah merebut remot tv dari tangan ibu. Ibu langsung berdiri menantang ayah. 

" Bagaimana kau bisa santai setelah melakukan ini ? " marah ayah. 

" Aku lebih heran lagi. Bagaimana kau bisa jijik pada bayimu sendiri ?! " balas ibu. 

Ayah mungkin tidak tahan dengan ucapan terakhir ibu yang membuat ia dengan tega melayangkan telapak tangannya ke pipi ibu yang membuat wajah ibu memutar sembilan puluh derjat. 

Ibu tak lagi bersuara. Ia mulai mengambil langkahnya ingin meninggalkan ayah, tapi tangan ayah lebih dulu meraih lengan ibu lalu melempar ibu ke sofa. 

Aku semakin takut. Aku menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. 

" Apa kau ingin memasak janinmu lagi ?! Aku akan membuatkannya untukmu sekarang ! " kata ayah gusar. 

Ibu diam saja. Bibirnya tak menunjukkan ingin mengatakan sesuatu. Tubuhnya tak bergerak di sofa. Pandangannya yang tajam menusuk ke dalam mata ayah yang melotot sejak tadi. Ayah tidak berusaha menghindar dari tatapan ibu yang mengerikan itu. 

Tiba-tiba pandangan ayah melayang ke arah pintu kamarku yang tak sepenuhnya tertutup. Dia nendapatiku yang sedang mengintip. Matanya berpapasan dengan mataku. Dengan gerak cepat aku menutup pintu kamarku. Jantungku berdegub hebat seperti hampir terlempar keluar dari dadaku. Aku mengunci pintunya lalu menjauh darinya. Pori-pori di wajahku bocor menjiprat keringat dingin keluar. 

Terdengar suara ibu menjerit beberapa kali di ruang tengah bercampur dengan suara ayah yang terengah-engah. 

Suara erangan ibu yang tak berhenti itu mulai menyiksa telingaku. Aku mendekati pintu dan hampir memutar kuncinya. Tapi, suara-suara yang menggangguku sejak tadi itu tiba-tiba berhenti. Aku berpikir untuk membuka pintunya atau tidak. Tapi aku tidak mampu menahan rasa penasaranku tentang hal yang terjadi pada ibu dan ayah. Apa ibu baik-baik saja ? Apa terjadi sesuatu dengan ayah ? Pikirku. 

Aku tekan rasa takutku sedalam mungkin sehingga pintunya perlahan-lahan terbuka. 

Aku melihat ayah yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Sementara itu, ibu sedang memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Hanya pakaian dalamnya saja yang masih menggantung di tubuhnya. Rambutnya terlihat acak-acakan dan wajahnya terlihat lelah. Merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang sedang ku saksikan itu, aku menutup pintu kamarku kembali. 


** 

Pagi itu, ayah menghilang lebih cepat. Bahkan ia tidak sempat mengisi perutnya untuk sarapan. 

" Ayah tidak menunggu kita ? " tanya tisa heran. 

" Kalian bisa pergi sendiri, kan ? Cepat selesaikan sarapan biar nggak ketinggalan Bus sekolah " jawab ibu datar. 

Aku menoleh ke wajah ibu yang lesu. Apa ini masih menyangkut dengan masalah semalam ?. Ibu melanjutkan makan tanpa peduli sekitar. Biasanya ibu pasti bertanya ini itu ' mau nambah lagi ? Mau coba yang ini ? Mau minum ? '. Tapi pagi ini ibu tidak sedikitpun berkokok seperti biasanya. Biasanya pasti ada hal yang dibicarakannya saat acara sarapan berlangsung. 

** 

Ibu sedang mengelus-ngelus perutnya di depan cermin membayangkan janinnya yang sekarang sudah tak bersarang lagi di sana ketika suara handphonenya berbunyi. 

Ibu meraih handphonenya di depan cermin. Sebuah panggilan dari Johan. Ibu menatapnya sebentar, berpikir untuk mengangkatnya atau tidak. Beberapa lama setelah handphonenya lelah merengek, panggilan itu terputus. Ibu lega. Tapi, ketika itu juga handphonenya kembali meraung. 

Ibu mengangkatnya. 

" Ada apa ? " suara ibu datar. 

" Apa kau di rumah ? " tanya Johan. 

" Lalu ? ". 

" Apa kita bisa bertemu ? ". 

" Kalau begitu aku akan keluar. Kita bertemu dimana ? ". 

" Tidak. Kau tidak usah keluar. Aku akan kerumahmu sekarang.. ". 

" Kalau begitu lupakan ! " ibu memutus telponnya begitu saja. 

Ibu mengembungkan pipinya. Apa yang di inginkan pria itu ? Pikirnya. 

Handphone ibu kembali berdengung. Kali ini sebuah pesan masuk, masih dari Johan. 

Ibu membukanya dan membaca pesamd tersebut. 

" Aku di depan pintu rumahmu sekarang. Bukalah.. ". 

*BERSAMBUNG KE PART 8….*


Semoga Bermanfaat
“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top