0

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Ruang kosong -blogsitaufik.blogspot.com

Ruang Kosong

By : Muhshal Misbah

******


 

" Buka.. Di sini gelap sekali.." 

Sepertinya tak ada yang mendengarkanku. Aku ketakutan bukan main. Di sini gelap dan dingin. Aku menyandarkan punggungku ke dinding. Sebuah senter dengan cahayanya yang mulai melemah ku peluk dengan erat. Cahayanya mengenai wajahku sedari tadi. 

" Dhuk !! Dhuk !! ". 

Suara tendangan ke pintu beberapa kali membuatku takut. Aku arahkan senterku ke arah pintu lalu suara-suara seorang pria membentak-bentak samar-samar terdengar di balik pintu, lalu di ikuti suara seorang perempuan yang menangis. 

Aku merapatkan telingaku ke pintu, tapi suara-suara itu menghilang. Ketika terdengar bunyi seseorang yang sedang membukakan pintu, aku bergegas melempar tubuhku merapat ke dinding dan menyandarkan punggungku di sana. Saat pintunya terbuka, aku mematikan senterku. 

" Ini ! Ambil ! " 

Perempuan itu melempariku beberapa uang koin lima ratus rupiah. Kemudian perempuan itu pergi tanpa mengunci pintunya kembali. 

Lalu seorang pria muncul di depan pintu tersenyum sinis padaku. Ia membawa gembok yang lebih besar dan mengunci pintunya. Aku tidak berkutik. Ketika ruangannya kembali menjadi gelap, senterku malah tak bisa berfungsi lagi. Aku meraba-raba ke lantai untuk mencari uang koin yang di lempar tadi. Tapi aku tidak menemukan apapun. Aku menangis, takut dan bingung. 

Aku kembali berdiam diri menyandarkan tubuhku ke dinding. Aku memeluk kedua lututku dan tiba-tiba merasakan perih di kedua pahaku. Aku meraba pahaku. Aku meringis. Pahakau penuh dengan benjolan-benjolan yang akan terasa perih kalau di sentuh. 

" Ini uangnya ! Kamu hanya bisa meminta ! Kau lihat aku punya uang ?! Kau lihat ?! ". 

** 

Aku membuka mata. Masih gelap. Aku merangkak menuju pintu. Aku menggedor-gedor pintu dan berteriak memohon agar di bukakan. Tapi sepertinya tak ada seorangpun yang mendengarkanku. 

Aku memukul-mukul kepalaku ke pintu sesaat sebelum terdengar suara langkah kaki seseorang menuju pintu. 

Aku menjauh dari pintu. Seseorang sedang membukakan pintu. Terdengar bunyi gembok dan kunci sedang berkelahi. 

Pintu terbuka dengan sendirinya. Tapi tidak ada ada siapapun di sana. Aku berdiri lalu melangkah pelan-pelan menuju pintu. Aku merasa aneh bercampur rasa takut yang berkecambuk di kepalaku. 

Seorang wanita separuh baya duduk menangis di lantai dan seorang pria yang mengancamnya dengan sebilah parang. Sementara seorang pria yang lain sedang asyik menyantap makanan di meja makan tanpa peduli keadaan di sekitarnya. 

Aku membawa langkahku beberapa langkah lagi dan menemukan seorang wanita muda yang memandang lurus ke luar jendela. Tatapannya kosong. Di luar sana seorang pemuda sedang mengumpulkan beberapa puntung rokok lalu menghisapnya. 

Aku memajukan langkahku hingga tiba di pintu depan. Ketika aku mencoba melangkah keluar tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang remaja yang terbaring lemah di bawah ranjang. Tubuhnya terkapar di lantai dan kotor bersebelahan dengan sebuah cangkul yang entah siapa menaruhnya di sana. 

Remaja laki-laki menoleh ke arahku. Wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang lain penuh luka dan biru-biru. 

" Kembali ! Kembali ! " dia membentakku. 

Aku ketakutan lalu mundur beberapa langkah. 

" Kau siapa ? " tanyaku yang mulai gemetaran. 

Remaja itu bangkit dan menatapku tajam " Kau yakin tidak mengenalku ? " tanyanya dengan penuh kemarahan. 

Aku menggelengkan kepalaku. Kebingungan memenuhi isi kepalaku tentang hal aneh yang sedang ku saksikan. 

Remaja itu menarik kerah bajuku " Lihat baik-baik ! Aku adalah kau ! Dan Kau adalah aku. Aku perintahkan kau Kembali ! Kembali ! ". 

Aku berlari menuju ruang gelap yang sebelumnya ku tempati. Orang-orang tadi berusaha menghalangiku. Mereka menangkap dan menginginkanku untuk tetap bersama mereka. Aku berteriak dan memberontak hingga aku berhasil melepaskan diri. Aku kembali mengayun langkahku menuju ruang gelap yang sekarang berada tepat di hadapanku. Begitu tubuhku berhasil melewati pintu, sesegera mungkin ku tutup pintunya kembali dan menguncinya. Tapi, orang-orang itu terus menggedor-gedor pintunya memintaku untuk membukanya. 

Aku menjauh dari pintu lalu merapatkan tubuhku ke dinding. Ketakutan berhasil menguasaiku. Pikiranku mulai kacau. Orang-orang itu terus menendang-nendang pintunya. Sebuah kapak ikut menghajar pintu tersebut hingga melobanginya. Kepalaku terasa sakit. Aku berteriak. 

" BRAAK ! " 

Pintu terbuka di ikuti tubuhku yang rebah lemah ke lantai. 

" Apa kau baik-baik saja ?. Nak ? Apa kau baik-baik saja ? " Pria itu merangkulku dan menggoyang-goyangkan tubuhku. 

" Ayah.. " panggilku dengan suara yang lemah sesaat sebelum pandanganku menjadi hitam. 

 

*BERSAMBUNG KE PART 2….*


Semoga Bermanfaat
“ Tinggalkan Sebuah Komentar Anda Berupa Kritik/Saran Yang Bersifat Membangun”

Wassalam

Post a Comment Blogger

 
Top